Lewati ke konten
Keluarga Besar Sniper · Seniman Pertanian
Beranda · Jurnal · metode tanam

Cara Menggunakan Trichoderma di Sistem Hidroponik

Tim Seniman Pertanian 6 menit baca 1.210 kata
Cara Menggunakan Trichoderma di Sistem Hidroponik

Cara Menggunakan Trichoderma di Sistem Hidroponik

Banyak petani hidroponik ragu memakai agen hayati seperti Trichoderma karena takut merusak larutan nutrisi atau menyumbat selang irigasi. Pertanyaan yang sering masuk ke tim kami: apakah jamur baik ini aman dikucurkan langsung ke bak nutrisi NFT atau DFT? Jawabannya tidak sesederhana itu, karena karakter sistem hidroponik jauh berbeda dari tanah, dan itu yang akan kita bedah tuntas di artikel ini.

Sistem hidroponik dirancang untuk meminimalkan kontaminasi mikroba karena larutan nutrisi bersirkulasi terus-menerus dan sebagian besar operator menjaga larutan tetap steril demi mencegah penyumbatan alat. Di sisi lain, akar tanaman tetap butuh perlindungan dari jamur patogen seperti Pythium dan Fusarium yang juga menyukai lingkungan lembap seperti ini. Solusinya bukan mengabaikan Trichoderma, melainkan menempatkannya di titik yang tepat dalam alur budidaya sehingga manfaatnya tetap didapat tanpa mengganggu kestabilan sistem.

Kenapa Tidak Bisa Asal Tuang ke Bak Nutrisi

Larutan nutrisi hidroponik biasanya dijaga bebas mikroba agar EC dan pH stabil serta tidak terjadi penyumbatan pada dripper atau nozzle akibat biofilm yang terbentuk dari koloni mikroba. Menuang spora Trichoderma langsung ke bak besar berisiko menimbulkan beberapa masalah teknis, di antaranya:

  • Spora ikut bersirkulasi ke seluruh sistem dan berpotensi menumpuk di filter, selang kecil, atau nozzle, sehingga menyebabkan penyumbatan yang mengganggu distribusi nutrisi ke seluruh tanaman.
  • Populasi jamur yang tidak terkendali bisa mengubah keseimbangan mikroba di larutan, termasuk memicu pertumbuhan alga jika ada residu organik yang menumpuk di dasar tangki.
  • Sulit memastikan dosis merata karena volume larutan besar dan terus mengalir, sehingga sebagian tanaman bisa mendapat paparan berlebih sementara yang lain hampir tidak kebagian.
  • Sistem yang memakai pompa submersible berpotensi mengalami keausan lebih cepat bila ada partikel media pembawa spora yang ikut tersedot.

Karena itu, pendekatan yang lebih aman adalah mengaplikasikan Trichoderma di titik-titik lokal seperti media semai atau media substrat, bukan menyebarkannya ke seluruh sistem sirkulasi air nutrisi.

Titik Aplikasi yang Tepat: Tahap Semai

Tahap paling ideal untuk memperkenalkan Trichoderma adalah saat pembibitan di media rockwool, cocopeat, atau media semai lain, sebelum bibit dipindah ke sistem hidroponik utama. Pada fase ini akar masih kecil dan media relatif terisolasi dari sirkulasi besar, sehingga koloni Trichoderma bisa tumbuh stabil tanpa risiko menyumbat pipa. Langkah praktisnya sebagai berikut:

  • Larutkan produk berbahan aktif Trichoderma harzianum sesuai dosis anjuran kemasan ke dalam air bersih yang sudah diendapkan agar kandungan klorin berkurang.
  • Rendam rockwool atau siram media semai dengan larutan tersebut satu hari sebelum atau tepat saat penyemaian benih dilakukan.
  • Biarkan koloni Trichoderma tumbuh dan menempel di akar selama masa semai, biasanya 7 sampai 14 hari tergantung jenis komoditas dan suhu ruang semai.
  • Setelah bibit dipindah ke sistem NFT, DFT, rakit apung, atau sistem sumbu (wick system), koloni yang sudah menempel di akar akan ikut terbawa dan terus melindungi zona perakaran selama fase pembesaran.

Pendekatan ini efektif karena Trichoderma bekerja optimal di zona perakaran atau rhizosfer, bukan mengambang bebas di air nutrisi yang terus bergerak. Dengan menanamkannya sejak fase akar masih kecil, koloni punya waktu membangun pertahanan alami di permukaan akar sebelum tanaman memasuki fase produksi yang lebih rentan terhadap serangan patogen tular air.

Aplikasi di Sistem Substrat: Coco Peat dan Media Padat

Untuk hidroponik sistem substrat seperti coco peat, arang sekam, atau campuran media tanam dalam pot maupun grow bag, aplikasi Trichoderma jauh lebih fleksibel dibanding sistem NFT murni. Karena media bersifat padat dan mampu menahan kelembapan, mikroba bisa berkoloni secara lebih stabil dan bertahan lebih lama dibanding di air yang terus mengalir.

  • Campurkan Trichoderma ke media tanam sebelum digunakan, minimal tiga sampai lima hari agar spora mulai aktif di media yang sudah lembap dan siap tanam.
  • Siram ulang setiap dua sampai tiga minggu selama fase vegetatif sebagai penyegaran koloni, terutama pada budidaya jangka panjang seperti tomat, paprika, atau timun hidroponik yang siklusnya bisa mencapai beberapa bulan.
  • Hindari mencampur aplikasi Trichoderma bersamaan dengan pengocoran fungisida kimia sistemik pada hari yang sama, beri jeda minimal beberapa hari agar residu kimia tidak langsung membunuh spora yang baru diaplikasikan.
  • Perhatikan drainase media; substrat yang terlalu becek dan minim oksigen justru menghambat pertumbuhan Trichoderma yang bersifat aerob.

Menjaga Larutan Nutrisi Tetap Aman

Jika ingin tetap memasukkan sedikit Trichoderma ke larutan nutrisi tangki kecil, misalnya pada sistem rakit apung skala rumahan, perhatikan beberapa hal berikut agar risiko penyumbatan dan kontaminasi silang tetap minimal:

  • Gunakan filter halus pada saluran masuk pompa untuk mencegah gumpalan spora atau media pembawa ikut tersedot ke dalam sistem sirkulasi.
  • Terapkan hanya pada tangki nutrisi yang tidak menggunakan sistem UV sterilizer aktif, karena sinar UV akan langsung membunuh spora yang melintas dan membuat aplikasi sia-sia.
  • Pantau EC dan pH seperti biasa; Trichoderma umumnya tidak mengubah keduanya secara signifikan bila dosis sesuai anjuran kemasan.
  • Lakukan pembersihan tangki secara berkala tetap seperti prosedur normal, jangan mengandalkan Trichoderma sebagai pengganti sanitasi rutin sistem hidroponik.

Kombinasi dengan Bahan Ramah Mikroba

Trichoderma bekerja lebih baik bila lingkungan sekitarnya mendukung pertumbuhannya. Beberapa produk yang mengandung PGPR atau plant growth promoting rhizobacteria, seperti TricoSniper (/produk/tricosniper), dirancang agar kompatibel dengan aplikasi di media semai maupun media substrat hidroponik, karena formulanya menggabungkan Trichoderma harzianum dengan bakteri pemacu tumbuh yang saling mendukung di zona akar tanpa saling menghambat.

Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari

  • Menggunakan air baku berklorin tinggi langsung untuk melarutkan Trichoderma tanpa diendapkan terlebih dahulu selama semalam.
  • Mengaplikasikan bersamaan dengan larutan nutrisi bersuhu tinggi, misalnya air panas dari tangki yang baru diisi ulang saat cuaca terik siang hari.
  • Menyimpan larutan Trichoderma yang sudah dicampur air terlalu lama sebelum digunakan, karena spora yang sudah aktif punya waktu simpan terbatas dan cepat kehilangan viabilitas.
  • Mengabaikan sanitasi talang, netpot, atau rockwool bekas yang masih menyimpan sisa patogen dari siklus tanam sebelumnya, sehingga Trichoderma yang baru diaplikasikan harus bekerja lebih keras.

Memantau Keberhasilan Kolonisasi di Sistem Hidroponik

Setelah rutin mengaplikasikan Trichoderma di tahap semai maupun media substrat, penting untuk mengevaluasi apakah koloni benar-benar terbentuk dengan baik di zona perakaran. Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan petani hidroponik untuk memantau hal ini:

  • Cabut satu bibit sampel secara hati-hati dari rockwool atau media substrat, amati apakah muncul lapisan tipis kehijauan di sekitar permukaan akar yang menandakan koloni Trichoderma sudah menempel dengan baik.
  • Bandingkan pertumbuhan akar antara bibit yang diberi perlakuan Trichoderma dengan bibit kontrol tanpa perlakuan pada baki semai yang sama, akar yang sehat biasanya tampak lebih putih, padat, dan bercabang lebih banyak.
  • Catat tingkat kematian bibit atau gejala layu pada beberapa siklus tanam berturut-turut sebagai indikator tidak langsung keberhasilan kolonisasi Trichoderma di sistem yang digunakan.

Menyesuaikan dengan Jenis Sistem Hidroponik yang Berbeda

Setiap jenis sistem hidroponik punya karakter sirkulasi air yang berbeda, sehingga pendekatan aplikasi juga perlu disesuaikan. Pada sistem NFT (Nutrient Film Technique) yang mengalirkan lapisan tipis nutrisi terus-menerus, risiko penyumbatan oleh partikel Trichoderma lebih tinggi dibanding sistem DFT (Deep Flow Technique) yang menggunakan genangan nutrisi lebih dalam. Untuk sistem wick atau sumbu yang mengandalkan kapilaritas, aplikasi Trichoderma di media padat justru lebih mudah dikontrol karena tidak ada pompa sirkulasi yang berisiko tersumbat. Memahami karakter sistem yang dipakai membantu menentukan titik aplikasi paling aman tanpa mengganggu operasional harian.

Kesimpulan

Kunci sukses memakai Trichoderma di hidroponik bukan pada seberapa sering menuangnya ke larutan nutrisi, melainkan pada ketepatan titik aplikasi: fokuskan di tahap semai dan zona perakaran media padat, jaga larutan nutrisi tetap bersih dari residu kimia yang membunuh spora, dan lakukan penyegaran koloni secara berkala. Dengan pendekatan ini, manfaat perlindungan akar dari Trichoderma tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kestabilan sistem sirkulasi hidroponik yang sudah dibangun dengan teliti.

Punya pertanyaan tentang topik ini?

Konsultan komunitas siap membantu mendiskusikan kasus spesifik di lahanmu. Pendampingan 24 jam untuk anggota.

Lanjutkan Membaca