Lewati ke konten
Keluarga Besar Sniper · Seniman Pertanian
Beranda · Jurnal · hama penyakit

Antraknosa (Patek) Cabai: Penyakit Paling Merugikan Saat Panen

Tim Seniman Pertanian 7 menit baca 1.500 kata

Di antara semua penyakit cabai, antraknosa — yang oleh petani lokal disebut patek atau busuk buah — adalah yang paling ditakuti menjelang musim panen. Bukan karena sulitnya dikenali, tapi karena kecepatannya merusak: dalam 3-5 hari di kondisi hujan, satu buah yang terinfeksi bisa menginfeksi seluruh tanaman, dan dari satu tanaman bisa menyebar ke satu bedengan.

Penyebab: Colletotrichum spp.

Antraknosa disebabkan oleh jamur genus Colletotrichum, terutama C. acutatum dan C. gloeosporioides — dua spesies yang paling dominan di Indonesia. Jamur ini termasuk patogen tular udara sekaligus tular tanah: sporanya menyebar lewat percikan air hujan dan angin, tapi juga bisa bertahan di sisa tanaman dan tanah selama musim.

Yang membuat antraknosa berbeda dari penyakit lain adalah kemampuannya menginfeksi buah hijau (belum matang) tapi gejalanya baru muncul saat buah mulai memerah (matang). Infeksi laten ini yang membuatnya sulit diprediksi — buah terlihat sehat saat dipetik, tapi membusuk dalam 1-2 hari setelah panen.

Gejala yang Perlu Dikenali

Gejala antraknosa klasik pada buah cabai:

  • Bercak cekung berwarna coklat kehitaman, berbatas tegas
  • Di dalam bercak terdapat massa spora berwarna oranye-salmon (acervuli) — inilah tanda definitif antraknosa
  • Bercak meluas cepat dan buah mengkerut/keriput
  • Pada serangan berat, seluruh buah membusuk dan mengering menjadi "mumi" di pohon

Pada batang dan daun, antraknosa menampilkan bercak coklat dengan halo kuning. Serangan di batang dekat pangkal bisa menyebabkan tanaman mati layu — kondisi yang sering dikacaukan dengan fusarium.

Kondisi yang Memicu Ledakan Antraknosa

Antraknosa meledak ketika tiga kondisi bertemu:

  1. Kelembaban tinggi — di atas 90% selama 12+ jam memicu perkecambahan spora
  2. Suhu optimal — 25-30°C adalah rentang terbaik untuk pertumbuhan Colletotrichum
  3. Inokulum tersedia — sisa tanaman musim lalu di lahan, atau buah yang terinfeksi tidak dipanen

Indonesia dengan iklim tropbasah nyaris selalu memenuhi dua kondisi pertama. Faktor inokulum yang bisa dikendalikan petani.

Pengendalian: Pendekatan Berlapis

Sanitasi Agresif

Ini adalah fondasi pengendalian antraknosa. Setiap buah yang menunjukkan gejala harus segera dipetik — bukan ditinggal sampai jatuh sendiri. Buah yang jatuh di tanah menjadi sumber spora yang akan tersebar oleh air hujan ke buah sehat. Kumpulkan dan musnahkan (bakar atau kubur dalam), jangan ditinggal di sekitar tanaman.

Setelah panen selesai, seluruh sisa tanaman harus dibersihkan dari lahan. Biarkan lahan terpapar sinar matahari selama minimal 2 minggu sebelum tanam berikutnya.

Fungisida Preventif

Fungisida untuk antraknosa harus diaplikasikan sebelum gejala muncul — bukan setelah. Spora yang sudah masuk ke jaringan buah tidak bisa dimusnahkan dari luar.

Fungisida protektif berbahan aktif klorotalonil, mankozeb, atau tembaga hidroksida efektif sebagai pelindung permukaan. Fungisida sistemik berbahan aktif azoksistrobin, difenokonazol, atau procymidone digunakan untuk pengendalian lebih mendalam. Ganti bahan aktif setiap 2-3 kali aplikasi untuk mencegah resistensi.

Frekuensi aplikasi ditingkatkan saat mendekati musim hujan atau menjelang panen: setiap 5-7 hari.

Biokontrol sebagai Lapis Pertama

Penelitian oleh Sharma et al. (2017) dalam Biological Control menunjukkan Trichoderma asperellum menekan pertumbuhan Colletotrichum gloeosporioides hingga 68% in vitro melalui produksi enzim hidrolitik dan senyawa antijamur. Aplikasi Trichoderma ke tanah dan permukaan tanaman membangun populasi antagonis yang mengurangi tekanan inokulum secara keseluruhan.

TricoSniper berbasis Trichoderma diaplikasikan ke tanah sejak awal penanaman dan dikombinasikan dengan semprot ke buah muda setiap 10-14 hari sebagai lapisan perlindungan biologis sebelum gejala muncul.

Pengaturan Kanopi dan Jarak Tanam

Kanopi yang terlalu rapat menciptakan iklim mikro yang ideal untuk antraknosa: lembab, kurang angin, kurang sinar matahari. Pemangkasan cabang yang tidak produktif dan pemeliharaan jarak tanam yang cukup (minimal 60×70 cm) membantu udara bersirkulasi dan tanaman cepat kering setelah hujan.

Penanganan Pascapanen

Antraknosa laten (tidak terlihat saat panen) adalah masalah besar untuk pemasaran. Buah yang terinfeksi laten terlihat sehat tapi membusuk dalam perjalanan ke pasar. Praktik yang membantu:

  • Panen di pagi hari setelah embun kering
  • Sortasi ketat — buah dengan bercak sekecil apapun dibuang
  • Rendam buah dalam air hangat 52°C selama 4 menit (hot water treatment) terbukti mengurangi infeksi laten tanpa merusak kualitas
  • Simpan di suhu dingin (10-12°C) jika memungkinkan

Varietas Toleran

Pemuliaan varietas toleran antraknosa adalah area penelitian aktif. Beberapa varietas hibrida komersial sudah memiliki ketahanan parsial terhadap C. acutatum. Konsultasikan dengan distributor benih atau komunitas pertanian lokal untuk varietas yang terbukti tahan di kondisi wilayah Anda.

Kesimpulan

Antraknosa tidak bisa dieliminasi dari lahan — sporanya ada di mana-mana. Yang bisa dilakukan adalah mengelola tekanan penyakit agar tidak meledak. Sanitasi konsisten, fungisida preventif dimulai sebelum buah terbentuk, dan biokontrol berbasis Trichoderma adalah kombinasi yang terbukti menjaga kerugian di bawah ambang ekonomi. Kuncinya adalah konsistensi — bukan intensitas respons setelah serangan terjadi.

Punya pertanyaan tentang topik ini?

Konsultan komunitas siap membantu mendiskusikan kasus spesifik di lahanmu. Pendampingan 24 jam untuk anggota.

Lanjutkan Membaca