Lewati ke konten
Keluarga Besar Sniper · Seniman Pertanian
Beranda · Jurnal · budidaya

Trichoderma untuk Kubis dan Kol: Cara Aplikasi yang Efektif

Tim Seniman Pertanian 6 menit baca 1.106 kata
Trichoderma untuk Kubis dan Kol: Cara Aplikasi yang Efektif

Trichoderma untuk Kubis dan Kol: Cara Aplikasi yang Efektif

Petani kubis dan kol di dataran tinggi sering pusing menghadapi masalah yang tidak selalu terlihat jelas di permukaan: tanaman tumbuh kerdil, daun menguning di siang hari lalu segar kembali sore hari, padahal pengairan cukup. Gejala semacam ini biasa mengarah pada akar gada (club root) yang disebabkan Plasmodiophora brassicae, atau busuk pangkal batang akibat Rhizoctonia dan Sclerotium yang menyerang jaringan dekat permukaan tanah.

Karena kubis dan kol ditanam rapat dalam satu bedengan dan sering dibudidayakan bergiliran di lahan yang sama musim demi musim, tekanan penyakit tular tanah cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu bila tidak ditangani. Trichoderma harzianum menawarkan pendekatan pengendalian yang bekerja langsung di titik masalah, yaitu zona perakaran dan pangkal batang.

Mengenal Akar Gada dan Kenapa Sulit Dikendalikan Kimia

Plasmodiophora brassicae bukan jamur biasa, melainkan organisme mirip amoeba yang membentuk spora istirahat sangat tahan lama di dalam tanah, bahkan disebutkan mampu bertahan hingga belasan tahun tanpa inang yang cocok. Infeksi menyebabkan akar membengkak tidak normal membentuk gada, sehingga kemampuan akar menyerap air dan hara sangat terganggu meski daun di atas tanah masih tampak hijau pada awalnya. Fungisida kimia sistemik umumnya kurang efektif menjangkau spora istirahat yang tertanam dalam di lapisan tanah, sehingga pendekatan biologis jangka panjang jadi lebih masuk akal.

Cara Aplikasi Trichoderma pada Kubis dan Kol

  • Media persemaian: campurkan Trichoderma ke media semai sejak awal agar bibit yang dipindah tanam nanti sudah membawa populasi mikroba pelindung di sekitar akarnya.
  • Saat pengolahan lahan: sebarkan Trichoderma yang diperkaya kompos matang secara merata ke seluruh bedengan, bukan hanya di lubang tanam, karena akar gada bisa menyebar luas di seluruh area perakaran yang meluas seiring pertumbuhan tanaman.
  • Saat pindah tanam: celupkan akar bibit ke larutan Trichoderma sebelum ditanam, memberi lapisan pertahanan langsung sebelum akar kontak dengan tanah yang mungkin sudah terkontaminasi.
  • Umur 2-3 minggu: kocor ulang di sekitar pangkal tanaman untuk memperkuat populasi mikroba menguntungkan saat akar mulai berkembang lebih luas mencari hara.
  • Umur 5-6 minggu (fase pembentukan krop): aplikasi tambahan membantu menjaga tanaman tetap sehat saat energi tanaman terkonsentrasi membentuk krop, fase paling menentukan hasil panen.

Untuk lahan kubis yang biasanya luas dan ditanam padat, TricoSniper lebih efisien diaplikasikan dengan cara dicampur air irigasi atau dikocorkan massal saat pemupukan susulan, dibanding aplikasi satu per satu tanaman yang memakan waktu.

Menekan Busuk Pangkal Batang Menjelang Pembentukan Krop

Selain akar gada, busuk pangkal batang yang muncul menjelang fase pembentukan krop juga jadi ancaman serius karena bisa membuat tanaman roboh tepat saat hasil panen sudah hampir siap. Trichoderma yang sudah berkoloni di zona pangkal batang sejak awal tanam membantu mencegah patogen seperti Rhizoctonia menembus jaringan batang, terutama bila kelembapan di sekitar pangkal tanaman terjaga tidak berlebihan.

Kombinasi dengan Praktik Budidaya di Lahan Kubis

  • Pengapuran lahan: menaikkan pH tanah mendekati netral membantu menekan perkembangan Plasmodiophora brassicae yang lebih menyukai tanah asam, sekaligus mendukung aktivitas Trichoderma yang optimal pada pH netral hingga sedikit asam.
  • Rotasi dengan tanaman bukan famili kubis-kubisan: seperti bawang atau kacang-kacangan, sangat penting mengingat daya tahan spora akar gada yang sangat lama di tanah.
  • Sanitasi sisa tanaman: mencabut dan memusnahkan akar tanaman yang terinfeksi berat alih-alih membiarkannya membusuk di lahan, mengurangi sumber inokulum untuk musim tanam berikutnya.
  • Pengaturan drainase bedengan: penting di dataran tinggi dengan curah hujan tinggi agar air tidak menggenang memicu kondisi anaerob di pangkal batang.

Mendeteksi Akar Gada Sejak Dini Sebelum Krop Terbentuk

Karena gejala akar gada di atas permukaan tanah sering baru terlihat jelas saat cuaca panas (tanaman layu sesaat lalu segar kembali), banyak petani baru menyadari masalah setelah fase pembentukan krop sudah dimulai, saat kerusakan pada sistem perakaran sudah signifikan. Cara paling andal mendeteksi lebih dini adalah mencabut beberapa sampel tanaman secara acak pada umur tiga hingga empat minggu dan memeriksa langsung kondisi akarnya. Bila ditemukan pembengkakan tidak normal meski dalam skala kecil, ini pertanda populasi Plasmodiophora brassicae di lahan tersebut cukup tinggi dan aplikasi Trichoderma perlu diintensifkan segera sebelum kerusakan meluas ke tanaman lain di bedengan yang sama.

Perbedaan Penanganan pada Kubis Krop Keras dan Kol Bulat

Meski sama-sama rentan terhadap akar gada, kubis krop keras yang butuh waktu tanam lebih panjang memerlukan jadwal aplikasi Trichoderma yang lebih sering dibanding kol bulat yang siklus tanamnya relatif lebih pendek. Pada kubis krop keras, tambahan aplikasi menjelang fase pengerasan krop, sekitar umur delapan minggu, membantu menjaga tanaman tetap kuat menghadapi tekanan penyakit yang terus ada selama fase pertumbuhan krop yang panjang tersebut.

Interaksi Trichoderma dengan Populasi Serangga Tanah

Selain menekan patogen jamur, keberadaan Trichoderma yang sehat di rizosfer secara tidak langsung juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem tanah secara keseluruhan, termasuk populasi mikroorganisme lain yang berperan dalam menekan hama tanah seperti ulat tanah yang kerap menyerang pangkal batang kubis muda. Ekosistem tanah yang seimbang cenderung lebih tahan terhadap ledakan populasi satu jenis organisme perusak, baik itu patogen maupun hama.

Menangani Lahan dengan Riwayat Serangan Akar Gada Berat

Pada lahan yang pernah mengalami serangan akar gada parah hingga gagal panen total, pemulihan tidak bisa mengandalkan Trichoderma saja dalam satu musim. Diperlukan pendekatan bertahap selama beberapa musim berturut-turut: kombinasi pengapuran untuk menaikkan pH, rotasi ketat dengan tanaman bukan famili kubis-kubisan minimal dua hingga tiga musim, dan aplikasi Trichoderma yang konsisten setiap musim tanam sisipan sekalipun. Petani perlu realistis bahwa penurunan tekanan penyakit pada lahan dengan riwayat berat terjadi secara bertahap, bukan instan dalam satu kali musim tanam saja.

Pertimbangan untuk Kubis yang Ditanam di Dataran Menengah

Selain sentra dataran tinggi klasik, kubis kini juga mulai dibudidayakan di dataran menengah dengan varietas yang lebih toleran suhu hangat. Pada kondisi ini, tekanan penyakit tular tanah bisa berbeda karakter dibanding dataran tinggi, dengan busuk pangkal batang akibat suhu lebih hangat cenderung lebih dominan dibanding akar gada yang lebih menyukai suhu sejuk. Penyesuaian fokus aplikasi Trichoderma, dari penekanan pada akar gada di dataran tinggi menjadi penekanan pada busuk pangkal batang di dataran menengah, penting dilakukan berdasarkan pengamatan kondisi aktual di lapangan masing-masing.

Peran Petani dalam Menjaga Keberlanjutan Lahan Sayuran Brassica

Kubis dan kol termasuk komoditas yang terus dibutuhkan pasar sepanjang tahun, membuat tekanan untuk menanam berulang di lahan terbatas cukup tinggi. Pendekatan pengelolaan lahan yang mengutamakan kesehatan tanah jangka panjang, dengan Trichoderma sebagai salah satu komponennya, membantu petani menjaga keberlanjutan produksi tanpa harus terus-menerus membuka lahan baru atau bergantung penuh pada fungisida kimia yang biayanya cenderung terus meningkat dan efektivitasnya bisa menurun akibat resistensi patogen dari waktu ke waktu.

Kesimpulan

Akar gada dan busuk pangkal batang pada kubis dan kol memerlukan pendekatan jangka panjang karena sifat patogennya yang persisten di dalam tanah. Aplikasi Trichoderma harzianum secara konsisten sejak persemaian hingga fase pembentukan krop, dipadukan pengapuran lahan dan rotasi tanaman yang disiplin, memberi hasil pengendalian yang jauh lebih berkelanjutan dibanding mengandalkan fungisida kimia semata.

Punya pertanyaan tentang topik ini?

Konsultan komunitas siap membantu mendiskusikan kasus spesifik di lahanmu. Pendampingan 24 jam untuk anggota.

Lanjutkan Membaca