Lewati ke konten
Keluarga Besar Sniper · Seniman Pertanian
Beranda · Jurnal · budidaya

Trichoderma untuk Padi: Manfaat bagi Kesehatan Akar dan Hasil Panen

Tim Seniman Pertanian 6 menit baca 1.118 kata
Trichoderma untuk Padi: Manfaat bagi Kesehatan Akar dan Hasil Panen

Trichoderma untuk Padi: Manfaat bagi Kesehatan Akar dan Hasil Panen

Berbeda dari kebanyakan tanaman hortikultura, padi sawah tumbuh dalam kondisi tergenang air sebagian besar masa tanamnya. Kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri: oksigen di zona perakaran terbatas, sisa jerami dari musim sebelumnya sering belum terurai sempurna saat tanam berikutnya dimulai, dan penyakit busuk pelepah maupun busuk batang kerap muncul terutama menjelang fase pembungaan. Banyak petani menganggap ini sebagai risiko yang harus diterima begitu saja, padahal ada cara untuk menekannya secara biologis.

Trichoderma, meski lebih dikenal pada tanaman lahan kering, juga punya peran penting pada budidaya padi baik sistem sawah maupun gogo. Perannya mencakup dua hal utama: mempercepat penguraian jerami menjadi bahan organik yang bermanfaat, serta menekan patogen tular tanah yang mengganggu perakaran dan pangkal batang padi.

Tantangan Khusus pada Budidaya Padi

Beberapa persoalan yang kerap dihadapi petani padi terkait kesehatan tanah dan tanaman meliputi:

  • Jerami sisa panen yang belum terurai saat olah tanah berikutnya dimulai, menyebabkan proses fermentasi anaerobik yang justru meracuni akar bibit baru (dikenal sebagai keracunan bahan organik).
  • Busuk pelepah dan batang oleh Rhizoctonia solani, yang menyebar cepat terutama pada pertanaman dengan jarak tanam rapat dan kelembapan tinggi.
  • Akar lemah pada padi gogo di lahan kering yang membuat tanaman rentan roboh dan kurang efisien menyerap hara.

Peran Trichoderma pada Perakaran dan Tanah Sawah

Trichoderma harzianum dikenal sebagai salah satu agen dekomposer alami yang efektif menguraikan bahan organik berselulosa tinggi seperti jerami padi. Saat diaplikasikan pada sisa jerami sebelum atau selama pengolahan tanah, jamur ini mempercepat proses pelapukan sehingga jerami sudah cukup terurai saat bibit padi ditanam, mengurangi risiko keracunan bahan organik yang biasa disebut petani sebagai "gas beracun" di petak sawah.

Perlindungan terhadap Patogen Pangkal Batang

Selain fungsi dekomposer, Trichoderma juga bekerja sebagai agen hayati yang menekan populasi Rhizoctonia solani dan patogen tular tanah lain melalui mikoparasitisme -- proses di mana hifa Trichoderma melilit hifa patogen dan mencernanya menggunakan enzim kitinase serta glukanase. Pada padi gogo yang ditanam di lahan kering, mekanisme kompetisi ruang dan nutrisi ini membantu akar berkembang lebih optimal tanpa gangguan patogen tular tanah seperti Fusarium.

Cara Aplikasi Trichoderma pada Budidaya Padi

1. Dekomposisi Jerami Pascapanen

  • Taburkan Trichoderma secara merata ke jerami sisa panen sebelum tanah dibajak atau digenangi kembali.
  • Beri jeda waktu minimal 2 minggu antara aplikasi dan penanaman bibit baru agar proses dekomposisi berjalan cukup sebelum akar bibit terpapar sisa jerami.
  • Pada sistem tanpa olah tanah, penaburan bisa dilakukan langsung setelah panen sambil tanah masih lembap.

2. Perlakuan Benih untuk Persemaian

  • Rendam benih padi dalam larutan Trichoderma sebelum disemai untuk menekan risiko rebah semai dan busuk benih di bak persemaian.
  • Cara ini sangat membantu pada persemaian sistem dapog yang padat dan rentan kelembapan berlebih.

3. Aplikasi Susulan pada Fase Vegetatif

  • Untuk lahan dengan riwayat busuk pelepah, kocoran atau penyemprotan Trichoderma pada pangkal batang bisa dilakukan saat fase anakan maksimum.
  • Pada padi gogo, aplikasi ke media tanam sebelum tanam sangat dianjurkan mengingat kondisi lahan kering yang lebih mirip budidaya palawija.

Kombinasi dengan Agen Hayati Lain

Pada padi gogo yang ditanam di lahan kering dan cenderung miskin unsur mikro, kombinasi Trichoderma dengan mikoriza seperti pada MycoSniper dapat membantu memperluas jangkauan akar dalam menyerap fosfor. Untuk perlindungan pangkal batang dan akar secara lebih spesifik terhadap patogen tular tanah, produk berbasis Trichoderma harzianum dipadukan PGPR seperti TricoSniper bisa menjadi bagian dari rangkaian aplikasi pada lahan dengan riwayat busuk pelepah yang berulang setiap musim.

Manfaat yang Terlihat di Lapangan

Petani yang menerapkan Trichoderma secara rutin pada budidaya padi umumnya melaporkan beberapa perubahan berikut:

  • Bibit di persemaian tumbuh lebih seragam dengan akar yang lebih panjang dan berbulu akar lebat.
  • Risiko keracunan bahan organik pascatanam pada sistem tanpa olah tanah berkurang.
  • Jumlah anakan produktif meningkat karena akar lebih efisien menyerap hara sejak awal pertumbuhan.
  • Kejadian busuk pelepah menurun terutama pada musim dengan curah hujan tinggi dan kelembapan udara yang lama.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Karena padi sawah sering tergenang air, efektivitas Trichoderma bisa menurun bila genangan terlalu dalam dan berlangsung lama tanpa jeda kering, karena kondisi anaerobik total kurang mendukung aktivitas jamur ini. Sistem pengairan berselang atau intermittent irrigation justru bisa mendukung kerja Trichoderma lebih optimal dibanding penggenangan terus-menerus. Selain itu, hindari aplikasi bersamaan dengan pemberian pupuk kimia dosis tinggi dalam waktu yang sama untuk menjaga populasi mikroba tetap stabil.

Perbandingan Sistem Tabela dan Tanam Pindah

Pada sistem tabur benih langsung atau tabela, benih padi kontak langsung dengan tanah sawah sejak awal tanpa melalui fase persemaian terpisah, sehingga perlakuan benih dengan Trichoderma menjadi lebih krusial dibanding sistem tanam pindah yang masih memberi kesempatan seleksi bibit sehat di persemaian. Petani yang menerapkan tabela disarankan memberi perlakuan Trichoderma pada benih secara menyeluruh sebelum disebar, karena tidak ada tahap penyaringan bibit lemah seperti pada sistem konvensional.

Pada sistem tanam pindah, keuntungan tambahan diperoleh karena bibit yang sudah diberi perlakuan Trichoderma sejak persemaian membawa populasi mikroba menguntungkan tersebut ke lahan utama saat dipindah, sehingga proses kolonisasi di lahan baru berlangsung lebih cepat dibanding harus membangun populasi dari nol.

Pengelolaan Pascapanen untuk Musim Berikutnya

Kebiasaan membakar jerami setelah panen memang praktis, namun cara ini menghilangkan potensi bahan organik yang seharusnya bisa diolah kembali menjadi humus dengan bantuan Trichoderma. Mengganti kebiasaan membakar dengan mencacah dan menaburkan Trichoderma pada jerami memberikan manfaat ganda: mengurangi asap pembakaran sekaligus mempersiapkan lahan dengan kandungan bahan organik yang lebih baik untuk musim tanam berikutnya.

Menyesuaikan dengan Varietas Padi yang Ditanam

Varietas padi umur pendek yang banyak digunakan petani saat ini menuntut ketersediaan hara yang lebih cepat dibanding varietas umur dalam, karena fase vegetatifnya berlangsung singkat. Pada varietas seperti ini, mempercepat dekomposisi jerami dengan Trichoderma sebelum tanam menjadi lebih penting agar hara dari bahan organik sudah tersedia saat tanaman membutuhkannya, bukan baru terurai sempurna setelah masa panen tiba. Sebaliknya, pada varietas umur dalam yang masa tanamnya lebih panjang, aplikasi susulan pada pertengahan musim tetap relevan untuk menjaga perlindungan akar hingga fase pengisian bulir, sehingga bobot gabah yang dihasilkan tetap optimal meski masa tanam berlangsung lebih lama.

Peran Trichoderma dalam Mendukung Pertanian Padi Berkelanjutan

Semakin banyak petani padi yang beralih ke pendekatan budidaya yang lebih ramah lingkungan sebagai respons atas menurunnya kesuburan lahan akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan selama bertahun-tahun. Trichoderma menjadi salah satu komponen penting dalam transisi ini karena mampu menekan ketergantungan pada fungisida kimia sekaligus memperbaiki kesehatan tanah secara bertahap. Penerapan yang konsisten dari musim ke musim, dikombinasikan dengan pengelolaan air dan bahan organik yang baik, membantu lahan sawah kembali produktif secara alami tanpa mengorbankan hasil panen yang diharapkan petani.

Kesimpulan

Kesehatan akar dan pangkal batang padi sangat memengaruhi jumlah anakan produktif dan bobot gabah yang dihasilkan. Dengan memanfaatkan Trichoderma untuk mempercepat dekomposisi jerami, melindungi persemaian, dan menekan patogen pangkal batang, petani padi baik di lahan sawah maupun gogo dapat membangun sistem budidaya yang lebih stabil dan mengurangi kerugian akibat penyakit tular tanah dari musim ke musim.

Punya pertanyaan tentang topik ini?

Konsultan komunitas siap membantu mendiskusikan kasus spesifik di lahanmu. Pendampingan 24 jam untuk anggota.

Lanjutkan Membaca